Menanggapi isi berita
Kita dapat memperoleh berbagai macam informasi dan pengetahuan dari membaca berita.informasi tersebut dapat menambah wawasan. Oleh karena itu, kita pelu memahami prinsip-prinsip berita.
Pokok-pokok isi suatu berita menyangkut hal berikut:
1. Tema atau nama peristiwa yang terdapat di dalam berita tersebut.
2. Orang atau pelaku yang mengalami atau berperan dalam berita tersebut.
3. Waktu yang berkaitan dengan saat terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
4. Tempat terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
5. Penyebab terjadinya peristiwa dalam berita tersebut
6. Urutan terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
Setelah menentukan pokok-pokok isi berita, Anda dapat menanggapi isi berita yang Anda dengarkan. Tanggapan adalah sambutan terhadap hal, peristiwa, masalah, ucapan, pendapat, atau gagasan yang berupa kritik, komentar atau yang lain. Tanggapan dapat berupa pernyataan setuju, tidak setuju, suka, tidak suka, atau menambahkan pendapat.
Tanggapan yang dikeluarkan harus bersifat objektif dan disertai dengan alasan yang logis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengemukakan tanggapan. Cara mengemukakan tanggapan adalah sebagai berikut:
1. Tanggapan berhubungan dengan masalah yang sedang dibicarakan
2. Tanggapan dapat mempercepat pemahaman masalah
3. Tanggapan tidak mengulangi pendapat yang pernah disampaikan peserta lain
4. Tanggapan disampaikan dengan kata atau kalimat yang tepat
5. Tanggapan disampaikan dengan sikap terbuka dan sopan
B. Pokok-pokok isi berita (5W + 1H)
Berita yang baik harus dapat menjelaskan beberapa hal berikut ini:
• Dapat menjelaskan peristiwa atau kejadian apa yang terjadi
• Dapat menjelaskan penyebab atau alasan peristiwa atau kejadian tersebut terjadi
• Dapat menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut
• Dapat menjelaskan tempat terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut
•Dapat menjelaskan waktu atau saat terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut
• Dapat menjelaskan bagaimana peristiwa atau kejadian tersebut terjadi
C. Jenis kalimat (berita, tanya, perintah)
Berdasarkan isinya, kalimat dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, antara lain:
Kalimat berita adalah kalimat yang menginformasikan suatu hal. Kalimat berita diakhiri tkamu titik.
Fia memberikan hadiah kepada Hafshah.
Kalimat tanya adalah kalimat yang menanyakan suatu hal. Kalimat tanya diakhiri tkamu tanya.
Siapa yang memberikan hadiah?
Kalimat perintah adalah kalimat yang memerintahkan, menginstruksikan, meminta suatu hal. Kalimat tanya diakhiri tkamu seru.
Fia, tolong berikan hadiah ini kepada Hafshah!
Menanggapi isi berita
Tanggapan adalah ulasan atau tanggapan atas berita, pidato, dsb untuk menerangkan atau menjelaskan (KBBI, 1999: 515). Tanggapan juga dimaknai sebagai Written or spoken statement wich gives an opinion on or explains something/ somebody. (Oxford, 2005: 119) à bentuk pernyataan lisan atau tulisan untuk memberikan pendapat atau penjelasan tentang sesuatu/ seseorang. Jadi, dari pengertian di atas kita dapat mengetahui bahwa fungsi tanggapan adalah untuk menerangkan atau menjelaskan.
D. Ciri-ciri Tanggapan (secara umum)
1. Merupakan pernyataan
2. Berbentuk lisan atau tulisan
3. Bertujuan untuk menanggapi atau menjelaskan atas suatu hal yang sebelumnya disampaikan/ dilakukan pihak lain.
E. Indikator Tanggapan yang baik
1. Tanggapan disampaikan dengan bahasa dan sikap (jika tanggapannya berbentuk lisan) yang santun
2. Tanggapan yang disampaikan dengan menyertakan alasan yang relevan dan seperlunya
3. Tanggapan yang disampaikan tidak berlebihan
4. Tanggapan yang disampaikan tidak bertujuan merendahkan atau memojokkan pihak lain
Kamis, 07 Juni 2012
Rabu, 06 Juni 2012
CARA PEMBUATAN TABEL
| urutan | nama pacar | Hobby Pacar |
| pertama | Ita | Tinju |
| kedua | Mita | begadang |
| ketiga | Mia | nonton film perang |
| keempat | Tami | Tidur |
MENEMUKAN GAGASAN INTI ATAU IDE POKOK PARAGRAF
MENEMUKAN GAGASAN INTI ATAU IDE POKOK PARAGRAF
Menemukan ide pokok paragraf merupakan sutau kewajiban bagi pembaca ketika mencoba menambah wawasan pengetahuannya melalui bacaan. Keterampilan menemukan ide pokok bisa dilatih dan dikembangkan secara teratur dan berkesinambungan sehingga menangkap inti bacaan atau informasi yang diterimanya menjadi tepat, akurat, dan cermat.
Inti atau ide pokok paragraf merupakan gagasan yang secara struktural maknawi membawahkan gagasan yang lain. Oleh sebab itu, inti atau ide pokok merupakan suatu konsep yang secara ordinatif mencakup konsep gagasan lain (menyubordinasi gagasan lain). Gagasan-gagasan lain yang terwujud dalam kalimat-kalimat penjelas atau pendukung gagasan pokok itu berantai-berkesinambungan guna membentuk kesatuan paragraf.
Menemukan inti atau ide pokok bisa disiasati dengan mengenal tipe paragraf, berdasarkan pola penalaran dan pola pengembangannya. Bila dilihat dari segi pola penalarannya, paragraf bisa berbentuk tipe deduktif dan induktif. Lain halnya bila kita lihat dari pola pengembangannya, tipe paragraf dapat berupa paragraf definisi, paragraf contoh, paragraf sebab-akibat(kausalitas), paragraf perbandingan (persamaan-perbedaan), paragraf pertentangan, paragraf kronologi, dan sebagainya.
Pola penalaran deduktif merupakan cara berpikir yang dimulai dengan rumusan pernyataan umum. Biasanya ditempatkan di awal paragraf, sedangkan kalimat-kalimat berikutnya merupakan kalimat-kalimat penjelas. Pola penalaran induktif merupakan pola berpikir dengan menggunakan peristiwa atau hal-hal khusus untuk menarik kesimpulan umum. Hal-hal atau peristiwa khusus yang dimaksud adalah peristiwa-peristiwa yang sejenis, seklasifikasi, paralel, dan digunakan sebagai data yang memperkuat gagasan untuk menarik kesimpulan. Secara logis, berdasarkan beberapa, banyak, atau semua data, pembaca digiring ke suatu kesimpulan umum atas peristiwa atau hal-hal tersebut. Pola penyimpulan bisa secara induktif, generalisasi, bahkan analogi.
Bila kita memenukan gagasan pokok berdasarkan pola penalarannya, ide pokok terdapat di kalimat awal atau di akhir paragraf. Perlu diketahui bahwa kalimat awal atau akhir paragraf bisa saja merupakan kalimat majemuk bertingkat, bahkan mungkin kompleks. Namun, inti gagasan terdapat pada induk kalimatnya, yakni unsur S-P (O)/(Pel.), sedangkan berdasarkan pola pengembangannya, ide pokok paragraf biasanya berada di awal paragraf.
Yang sering membuat pembaca bingung menentukan ide pokok adalah bila paragraf yang dibacanya bertipe naratif atau deskriptif. Ide pokok paragraf biasanya terjabarkan secara merata berkesinambungan dalam semua kalimat paragraf tersebut. Oleh sebab itu, pembaca harus pandai menemukan kata-kata kunci (key words) paragraf itu. Berdasarkan kata-kata kunci itulah kita dapat menentukan kalimat ide pokok.
Berbagai bentuk evaluasi, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi, tipe soal menentukan ide pokok atau inti gagasan pasti kita temukan. Hal itu bisa kita temukan pula dalam ulangan harian, ulangan blok, ulangan umum, ulangan semester, ulangan kenaikan, bahkan ujian nasional serta tes ke perguruan tinggi. Oleh karena iu, kepandaian menemukan ide pokok bisa ditingkatkan dan dilatih dengan cara membiasakan dan meningkatkan terus keamampuan membaca. Berlatih dan terus berlatih demi kemajuan kita semua.
Sumber bacaan untuk berlatih kita dapat menemukannya dalam berbagai bentuk dan corak, asalkan bersifat edukatif, intelektual, dan rasional. Kemajuan teknologi informasi dapat kita manfaatkan untuk hal ini sejalan dengan pengembangan wawasan kita sendiri. Membaca merupakan hal yang signifikan dalam kehidupan kita manakala kita menjadi individu masyarakat yang semakin meningkat taraf kualitas pribadi dan peradabannya. Selamat berlatih.
Posted by DRS. KASDI HARYANTA at 10:25 PM 0 comments
Ide Pokok adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran,gagasan.atau merupakan suatu gagasan / pikiran utama dari sebuah paragraf / yang mendasari suatu paragraf.
Cara menemukan Ide pokok suatu paragraf.
1. Membaca dari keseluruhan teks bacaan.
2. Memahami isi bacaan teks bacaan tersebut.
3. Menemukan Ide pokok bacan.
Ide pokok terdapat dalam setiap paragraf .biasanya , ide pokok dinyatakan secara eksplisit dalam kalimat utama atau kalimat topik.paragraf yang Ide pokoknya terdapat di awal paragraf disebut paragraf deduktif.sedangkan paragraf yang Ide pokoknya terdapat di akhir paragraf disebut induktif.
Sedangkan paragraf:suatu bahasa yang lebih besar dari pada kalimat tetapi lebih kecil dari pada wacana.
Bagian – bagian paragraf:
1. inti kalimat / ide pokok.
2. Kalimt penjelas /Idde penjelas paragraf.
Syarat paragraf dapat dikatakan baik jika memenuhi beberapa syarat:
1. Satu kesatuan
Paragraf merupakan satu kesatuan yang utuh dan kalimat yang mendukung paragrafharus laras dan tidak ada satu kalimat yang menyimpang dari Ide pokok tersebut
1. Kepaduan
Suatu paragraf merupakan satu kesatuan yang padu,kepaduan suatu paragraf biasanya ditandai penggunaan penandaan koherensi / penyatuan , artinya masing – masimg kalimat mempunyai hubungan timbal balik dan teratur.
Dari letak umumnya , Paragraf dapat di lihat dari segi isi :
1. Paragraf Narasi :
paragraf yang berfungsi / bertujuan untuk menceritakan sesuatu agar pembaca atau pendengar seolah – olah mengalami peristiwa tersebut.
1. Paragraf Deskripsi : Paragraf yang berfungsi menggambarkan sesuatu / objek secara gamblang sehingga pembaca / pendengar seolah – olah melihat langsung apa yang di sampaikan.
2. Paragraf Eksposisi :
Paragraf yang berfungsi untuk memaparkan / menjelaskan sesuatu secara detail , mendalam dan jelas,sehingga pembaca / pendengar memperoleh pengetahuan baru dari apa yang disampaikan.
1. Paragraf Argumentasi :
Paragraf yang berusaha untuk mempengaruhi sehingga pembaca / pendengar mendukung / membenarkan pendapat penulis / pembaca.
Berdasarkan sifat dan tujuannya paragraf terdiri dari:
1. Paragraf Pembuka
Bagian paragraf yang bertujuan untuk mengantarkan pembaca / pendengar ke dalam inti suatu paragraf .
1. Paragraf Inti
Paragraf yang menghubungkan antara paragraf pembuka dan penutup . biasanya paragraf ini merupakan inti sari dari suatu wacana.Contoh atau alasan yang ingin dikemukakan lazimnya paragf ini disebut paragraf penghubung .
1. Paragraf Penutup
Paragraf yang berfungsi untuk mengakhiri suatu karangan / wacana .biasanya berisi simpulan dari paragraf inti / penghubung kadang – kadang berupa penegasan .
KALIMAT LANGSUNG DAN TAK LANGSUNG
Kalimat langsung dan tak langsung
KALIMAT LANGSUNG adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan atau ujaran orang lain, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bentuk dari kalimat langsung dapat berupa kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, ataupun kalimat seru.
KALIMAT TAK LANGSUNG adalah kalimat yang melaporkan/memberitahukan ucapan atau ujaran orang lain. Bentuk dari kalimat tidak langsung hanya berupa kalimat berita.
PERBEDAAN KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG
1. Kalimat langsung bertanda kutip (“…”) sedangkan kalimat tak langsung tidak bertanda kutip.
2. Pada kalimat langsung, intonasi bagian yang dikutip lebih tinggi dibandingkan yang tidak, sedangkan pada kalimat tak langsung, intonasi mendatar dan menurun.
3. Pada kalimat langsung, kata ganti pada kalimat yang dikutip tidak mengalami perubahan, sedangkan pada kalimat tak langsung kata ganti pada kalimat yang dikutip mengalami perubahan.
4. Susunannya kalimat langsung tetap, tidak berkata tugas sedangkan kalimat tak langsung berkata tugas, seperti bahwa, sebab, untuk, supaya, dll.
5. Kalimat langsung berbentuk kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, dan kalimat seru sedangkan kalimat tak langsung hanya berupa kalimat berita.
PENGGUNAAN KATA GANTI (PRONOMINA) PADA KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG
Kalimat Langsung - Kalimat Tak Langsung
kamu saya, aku
engkau saya, aku
aku, saya dia, ia
-ku -nya
kita mereka
PENGGUNAAN KATA TUGAS PADA KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG
Kalimat Langsung Kalimat Tak Langsung
siapa tentang nama / pelaku
apa (-kah) tentang sesuatu / benda
Kapan, bilamana waktu
di mana, ke mana tempat
mengapa sebab
Berapa, ke berapa jumlah, urutan
mana pilihan
bagaimana cara
jangan untuk tidak
-lah untuk / supaya / agar
(kalimat berita) bahwa
TATA PENULISAN KALIMAT LANGSUNG
1. Kalimat langsung ditulis di antara tanda kutip (“…”).
2. Huruf pertama pada petikan langsung ditulis dengan menggunakan huruf kapital.
3. Tanda kutip penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
4. Bagian pengiring dan bagian petikan langsung dipisah dengan tanda baca koma (,).
5. Jika di dalam petikan langsung menggunakan kata sapaan, maka sebelum kata sapaan diberi tanda baca koma (,) dan huruf pertama kata sapaan menggunakan huruf kapital.
6. Kalimat langsung yang berupa dialog berurutan, wajib menggunakan tanda baca titik dua (:) di depan kalimat langsung.
CERITA RAKYAT
Cerita Rakyat
Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya, seperti agama dan kepercayaan, undang-undang, kegiatan ekonomi, sistem kekeluargaan, dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut. Dahulu, cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat tertentu. Menurut Djames Danandjaja, di antara ciri-ciri cerita rakyat, antara lain:
• Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan.
• Bersifat tradisional, yakni hidup dalam suatu kebudayaan dalam waktu tidak kurang dari dua generasi.
• Bersifat lisan, sehingga terwujud dalam berbagai versi.
• Bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi. Maka, ia menjadi milik bersama dalam masyarakatnya.
• Mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakatnya, misalnya sebagai media pendidikan, pengajaran moral, hiburan, proses sosial dan sebagainya.
• Bersifat pralogis, yakni mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika ilmu pengetahuan, misalnya seorang tokoh adalah keturunan dewa atau proses kelahirannya tidak wajar seperti Karna dalam epos Mahabharata yang dilahirkan melalui kuping ibunya.
• Pada umumnya bersifat sederhana dan seadanya, terlalu spontan dan kadang kala kelihatan kasar, seperti yang terlihat pada anekdot dan sebagian cerita jenaka. Namun dalam perkembangannya, sebagian cerita rakyat telah disusun dalam bentuk bahasa yang lebih teratur dan halus.
Pada umumnya, cerita-cerita rakyat mengisahkan tentang terjadinya berbagai hal, seperti terjadinya alam semesta, manusia pertama, kematian, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam tertentu, tokoh sakti yang lahir dari perkawinan sumbang, tokoh pembawa kebudayaan, makanan pokok (seperti padi, jagung, sagu, dsb.), asal-mula nama suatu daerah atau tempat, tarian, upacara, binatang tertentu, dan lain-lain. Adapun tokoh-tokoh dalam cerita rakyat biasanya ditampilkan dalam berbagai wujud, baik berupa binatang, manusia maupun dewa, yang kesemuanya disifatkan seperti manusia.
Cerita rakyat sangat digemari oleh warga masyarakat karena dapat dijadikan sebagai suri teladan dan pelipur lara, serta bersifat jenaka. Oleh karena itu, cerita rakyat biasanya mengandung ajaran budi pekerti atau pendidikan moral dan hiburan bagi masyarakat pendukungnya. Pada masa sebelum tersedianya pendidikan secara formal, seperti sekolah, cerita-cerita rakyat memiliki fungsi dan peranan yang amat penting sebagai media pendidikan bagi orang tua untuk mendidik anak dalam keluarga. Meskipun saat ini pendidikan secara formal telah tersedia, namun cerita-cerita rakyat tetap memiliki fungsi dan peranan penting, terutama dalam membina kepribadian anak dan menanamkan budi pekerti secara utuh dalam keluarga.
Saat ini, cerita-cerita rakyat tidak hanya merupakan cerita yang dikisahkan secara lisan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi telah banyak dipublikasikan secara tertulis melalui berbagai media. Peranan para tukang cerita sebagian besar telah diambil alih oleh media cetak maupun elektronik. Meskipun demikian, ciri-ciri kelisanannya tetap melekat padanya. Media cetak dan elektronik hanya merupakan alat penyebar dan pelestari cerita rakyat tersebut
Perkembangan Jurnalistik
Perkembangan Jurnalistik
Jurnalistik bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dan sebagainya, akan tetapi meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi.
Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism). Dahulu kegiatan jurnalistik dilakukan dengan cara-cara manual, mulai dari pencarian berita hingga kepada kegiatan pelaporan berita atau pengumpulan berita dilakukan dengan cara yang masih sangat sederhana. Hal ini dikarenakan dahulu alat-alat pendukung kegiatan jurnalistik masih minim sekali. Selain itu juga jurnalistik pada zaman dahulu hanya dipahami sebagai publikasi secara cetak. Tetapi sekarang tidak hanya dari situ saja, media elektronik juga ikut andil dalam hal pemberitaan serta sebagai pelaku media massa.
Dapat dilihat bahwa sekarang ini dunia teknologi semakin berkembang. Perkembangan teknologi tersebut juga memengaruhi perkembangan jurnalistik. Pada zaman dahulu hanya seorang jurnalis profesional yang mampu melakukan kegiatan jurnalistik. Dimana kegiatan jurnalistik yang dimaksud adalah mencari, mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan berita kepada masyarakat luas. Akan tetapi saat ini, kegiatan jurnalistik tidak hanya dapat dilakukan oleh jurnalis profesional. Dengan ditemukan teknologi internet, kegiatan jurnalistik dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki backgroun sebagai jurnalis profesional. Setiap orang bisa melakukan kegiatan mencari, mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan berita kepada masyarakat luas. Istilah yang digunakan untuk perkembangan jurnalistik tersebut yakni citizen journalism. Dalam citizen journalism, semua anggota masyarakat mampu melakukan kegiatan jurnalistik tanpa memandang latar belakang pendidikan dan keahlian. Kehadiran citizen journalism mendorong setiap orang untuk berani menulis dan melaporkan informasi/berita kepada banyak orang tanpa memerlukan label atau status jurnalis profesional.
Inilah dampak dari perkembangan teknologi dalam dunia jurnalistik, dimana setiap orang sekarang memiliki hak yang sama untuk bebas dalam mengeluarkan pendapatnya. Dalam perkembangan ini memunculkan berbagai akibat baik positf maupun akibat negatif. Sebagai dampak positifnya, perkembangan media komunikasi memudahkan kegiatan jurnalistik yang sedang berlangsung. Informasi yang didapat akan segera disampaikan serta lebih cepat didapatkan daripada waktu ketika teknologi komunikasi belum berkembang pesat seperti saat ini. Sedangkan untuk akibat negatifnya, jurnalistik dalam perkembangan teknologi komunikasi ini, memberikan banyak peluang bagi anggota masyarakat untuk membuat berita, mengakses informasi, serta menyebarkan informasi lebih akurat dan lebih cepat dari pada para jurnalis profesional, dimana perlu diketahui, bahwa kesadaran masyarakat akan prinsip-prisip jurnalistik tidak sepenuhnya dapat diterapka.
Sehingga pertanggungjawaban atas informasi yang diberitakan itu belum tentu dapat dipertanggungjawabkan, apalagi mengingat prinsip-prinsip jurnalisme tetap harus dipegang ketika sedang melakukan kegiatan jurnalistik. Prinsip-prinsip jurnalisme tersebut antara lain kebenaran, akurasi, objektivitas (cover both side), berimbang, verifikasi, dan lain-lain. Prinsip-prinsip tersebut harus dilaksanakan karena informasi yang disajikan adalah untuk dibaca dan diketahui oleh publik. Jangan sampai publik menerima informasi yang salah setelah membaca artikel atau tulisan produk yang dibuat oleh anggota masyarakat lainnya.
JANGAN BUNUH IDEALISME ANAK
JANGAN BUNUH IDEALISME ANAK
Semua orang tua pasti punya harapan dan keinginan yang cukup yang cukup besar agar anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna di dalam masyarakat sehingga menjadi kebanggaan keluarga. Karena keinginan itu banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak menjadi ini dan itu sesuai dengan apa yang diharapkan. Pada pandangan orang tua seperti itu sebenarnya apa yang dilakukannya itu adalah bentuk kasih sayang yang diberikan. Mereka was-was dan takut masa depan anaknya tidak menentu. Kejadian seperti itu tidak jarang terjadi konflik antara orang tua dan anak.
Sebenarnya menjadi orang tua saat ini tidak perlu memperlakukan anak seperti itu lagi. Tetapi bukan berarti orang tua tidak boleh ikut campur terhadap perkembangan anaknya. Tanggungjawab orang tua tetap saja diperlukan dalam rangka mengarahkan anak kearah yang lebih baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dalam hal ini orang tua perlu memberi frame yang jelas sebagi cerminan atau pedoman anak dalam menentukan arah hidupnya yang lebih baik.
Anak memiliki potensi tersendiri yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Tugas orang tua seharusnya mengetahui potensi anak itu. Dengan demikian orang tua tidak akan memaksa kehendaknya. Tetapi itu pun bukan jaminan, yang terpenting adalah orang tua tidak boleh bersikap egois terhadap pilihannya yang tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Sebab banyak contoh yang kita lihat, ada orang tua yang tahu potensi anaknya tetapi karena keegoan yang dimilikinya membuat mereka tidak peduli.
Anak memiliki idealisme tersendiri dalam menentukan pilihan-pilihan untuk masa depannya. Bila orang tua masih memaksakan diri, maka idealisme anak akan terbunuh. Akibatnya adalah terjadi konflik yang berkepanjangan dalam hidup anak. Tak jarang hal ini terjadi pemberontakan yang mereka apreasiasikan dalam hal-hal yang bertentangan dengan keadaan normal dalam masyarakat.
Membunuh idealisme anak sama saja dengan membunuh sebuah generasi bangsa. Sebab dengan demikian, generasi-generasi yang ada akan rapuh. Mereka tidak dapat berdiri pada prinsip-prinsip yang ideal dan ini berkaitan dengan kemandirian mereka. Dalam membangun sebuah bangsa yang kuat kemandirian generasi muda sangat diperlukan. Generasi yang mandiri mereka akan berbuat apa saja yang diperlukan yang tidak bergantung pada keberadaan orang lain. Mereka akan kreatif yang pada akhirnya akan menghasilkan solusi-solusi yang tepat terhadap permasalahan yang dihadapi. Bukan generasi yang menghasilkan masalah-masalah yang dapat meresahkan masyrakat. Tentu saja bila mereka menjadi pejabat, tidak serta merta bermental koruptor.
Karena itu orang tua dan juga bangsa harus benar-benar mengembangkan suatu iklim dalam masyarakat dan pendidikan agar jangan sampai mengilas atau membunuh idealisme yang dimiliki anak atau generasi mudanya.
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/04/jangan-bunuh-idealisme-anak/
Langganan:
Postingan (Atom)